Rabu, 17 Oktober 2012

STOP Tawuran



Akhir-akhir ini tawuran menjadi tema pembicaan di berbagai media-media nasional. Tentu hal ini membuat banyak kalangan miris dengan kondisi dunia pendidikan nasional. Berbagai seminar, diskusi dan talkshow pun digelar untuk mencari solusi bersama atas permasalahan kekerasan di kalangan pelajar nusantara.
Menurut Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) kekerasan pelajar akibat kurang disiplinnya aturan yang sebetulnya dipatuhi pelajar, sudah sangat melampaui batas abnormalitas moral sosial dan agama. Serta kurangnya perhatian keluarga terdekat mereka, sehingga memicu rasa ketidakperhatian terhadap diri remaja itu sendiri.
“Pertama kita harus memandang ini dari lini-perlini, tapi saya lebih tertarik akan satu hal bahwa hal ini bisa terjadi karena sikap abai. Peng-abai-an yang dilakukan orang tua berakibat anak-anak memiliki beban sosial baru, jiwa muda yang selalu begejolak, ketika tidak diperhatikan. Membuat mereka melakukan aksi-aksi heroik yang cenderung brutal yang menurutnya bisa menarik perhatian oleh komponen masyarakat lain yang lebih banyak lagi. Selain itu guru pendamping kegiatan ekstra kehilangan cara atau metode dalam meningkatkan daya kreatifitas siswa,” ujar Sekretaris Jendral PP IPM, Dzul Fikar Ahmad Tawalla.
IPM berharap kasus kekerasan pelajar tidak perlu terjadi lagi. Mengharapkan juga semua pihak, orang tua, sekolah, guru, teman-teman, dan masyarakat dalam mengarahkan pelajar ke arah tindakan positif yang nihil akan api perselisihan. IPM pun sudah menggagas sebuah gerakan pelajar kreatif sejak dua tahun lalu, dan di Muktamar ke 18 Palembang akhir November 2012 nanti, IPM menggagas pelajar berkarakter. “Ide ini muncul karena IPM peduli terhadap pelajar, pelajar butuh sebuah formula untuk mengaktualisasikan bakat dan idenya dengan kegiatan-kegitan positif, seperti Gerakan Cinta Al Quran, Gerakan Membaca, Gerakan Komunitas-komunitas (perpustakaan, rumah baca, pecinta alam, sepak bola, musik, dll).

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Rabu, 11 Juli 2012

Galery AKSI IX



GAMBAR  YANG SEMPAT TERREKAM KAMERA PANITIA
PADA KEGIATAN LOMBA2 AKSI KE-IX TAHUN 2011


terlihat ada seorang santrri lagi unjuk gigi melantunkan suara merdunya 
untuk membaca Al-Qur'an karim yang mulia


suasana penampilan bebas peserta lomba


base-camp peserta yang teduh dan nyaman,
ta^pi
kenapa sampahnya dibuang sembarangan!!!?


aduh, kenapa iTu anak pegang kepala ja!!!


Sponsor 



Penyerahan Tropy Bergilir AKSI
(Ajang Kreasi dan Seni Anak Islam)
Se-Kabupaten Klaten


wah, sepertinya asik nih, bisa "klotekan" bareng temen2 


PIALA-PIALA untuk para juara tiap cabang lomba



ALLAHU AKBAR!!!



INDONESIA RAYA....... dan diterusin sendiri ya!!


masak santri-sntri TPA pada nyanyi "Aserehe"


penonton setia 


Penyerahan piala/tropy kepada para juara lomba


panitia yang patut dicontoh, PEDULI LINGKUNGAN
bagus!!!? Tingkatkan......


!!!....???
kasih komentar ya!!

Jumat, 06 Juli 2012

Jalan Menuju al-Jannah


Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أبَى قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ : مَنْ أطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى
“Seluruh umatku akan masuk al-Jannah (Surga) kecuali orang yang enggan. Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan?’ Rasulullah menjawab, ‘Barang siapa yang menaatiku, dia akan masuk al-Jannah, dan barang siapa yang bermaksiat (tidak taat) kepadaku, maka dialah orang yang enggan (yakni enggan masuk al-Jannah, pen.).” (HR. al-Bukhari) 
Pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh indah ucapan al-Imam Muhammad at-Tamimi rahimahullah, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan dan memberikan rezeki kepada kita, dan (kemudian) Dia tidak membiarkan kita begitu saja. Namun Allah telah mengutus kepada kita seorang rasul (Muhammad). Barang siapa yang menaatinya, dia akan masuk al-Jannah, dan barang siapa yang bermaksiat kepadanya, dia akan masuk an-Nar (neraka).”
Walaupun ringkas, kalimat yang beliau tuangkan dalam kitabnya Tsalatsatul Ushul tersebut mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Allah menciptakan manusia dan jin di dunia ini tidaklah sia-sia. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan membiarkan mereka hidup tanpa aturan dan syari’at yang menuntun mereka. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka agar beribadah kepada-Nya. Sebagai Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dia juga memberikan rezeki dan berbagai kenikmatan kepada mereka untuk memudahkan dalam merealisasikan ibadah tersebut.
Namun untuk mewujudkan ibadah sebagaimana yang dikehendaki Allah, kita tidak bisa menunaikannya dengan baik dan benar jika tidak ada yang menuntun dan membimbing kita sesuai dengan yang dikehendaki oleh-Nya. Oleh karena itu, dengan hikmah dan kasih sayang-Nya pula, Allah mengutus Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai rasul terakhir dan penutup para nabi untuk menjelaskan tata cara ibadah yang dikehendaki oleh-Nya.
Sehingga seluruh amal ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran beliau maka ibadah itu akan sia-sia. Inilah sesungguhnya hakekat ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu setiap ibadah kepada Allah harus dilakukan sesuai dengan ajaran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka seseorang yang benar-benar merealisasikan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang akan mendapatkan jaminan al-Jannah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Ketika seseorang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, tidaklah cukup hanya sebatas di lisan saja. Namun harus pula diwujudkan dalam bentuk amalan nyata. Yaitu dia harus mengikhlaskan segala bentuk ibadahnya hanya untuk Allah semata serta ibadah yang dia laksanakan harus ada contoh dan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammerupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seorang yang menginginkan untuk senantiasa taat kepada Allah, maka di antara wujud ketaatan kepada-Nya adalah taat kepada Rasulullah. Sedangkan ketaatan kepada Rasulullah merupakan bukti akan ketaatan dia kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),
“Barang siapa yang menaati Rasul itu (Nabi Muhammad), sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (An-Nisa’: 80)
Sehingga barang siapa yang bermaksiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak mau mendengar dan taat kepada beliau, maka berarti dia juga telah bermaksiat kepada Allah dan tidak mau taat serta tunduk kepada Penciptanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ
“Barang siapa menaatiku, sungguh dia telah menaati Allah, dan barang siapa bermaksiat (tidak taat) kepadaku, sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bagaimana bisa seorang yang tidak taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan sebagai orang yang tidak taat kepada Allah? Ya, karena tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda atau menetapkan suatu syariat, melainkan hal itu merupakan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah lberfirman (artinya),
“Dan tidaklah dia berucap menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
Maka dari itu, banyak sekali ayat tentang perintah untuk menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang disebutkan beriringan dengan perintah untuk menaati Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (Al-Anfal: 1)
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan kepada kaum mukminin jika mereka memang benar-benar telah mengikrarkan keimanan, maka mereka harus siap untuk tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena keimanan (yang jujur) itu akan mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana orang yang tidak menaati Allah dan Rasul-Nya bukanlah orang yang beriman (dengan keimanan yang benar). Barang siapa yang kurang ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hal ini menunjukkan kurangnya kadar keimanannya. (Lihat Taisir al-Karimir Rahman)
Dari sini jelaslah bahwa di antara syarat sempurnanya keimanan seseorang adalah dengan mewujudkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Buah Ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
Orang yang senantiasa istiqamah di atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya akan meraih sekian banyak kebaikan. Satu kebaikan saling berkaitan dengan kebaikan yang lainnya. Di antara kebaikan-kebaikan tersebut adalah:
1. Mendapatkan limpahan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),
“Dan taatilah Allah dan Rasul, pasti kalian diberi rahmat.” (Ali ‘Imran: 132)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan salah satu sebab diraihnya rahmat (kasih sayang) Allah.”
Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala merupakan kunci utama bagi seseorang untuk merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
2. Mendapatkan hidayah
Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Tentu, orang yang dirahmati oleh-Nya sajalah yang akan mendapatkan anugerah besar ini. Mereka itulah yang senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam ayat-Nya (artinya),
“Dan jika kalian taat kepadanya (Nabi Muhammad), niscaya kalian mendapat hidayah (petunjuk).” (An-Nur: 54)
Yaitu hidayah (petunjuk) menuju ash-Shirath al-Mustaqim (jalan yang lurus), baik (petunjuk untuk) berkata maupun beramal. Tidak ada jalan bagi kalian untuk mendapatkan hidayah kecuali dengan menaati beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak mungkin bahkan mustahil untuk mendapatkan hidayah. (Lihat Taisir al-Karimir Rahman).
3. Meraih kemenangan besar
Sebagaimana di dalam firman-Nya (artinya),
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 71)
Kemenangan yang besar ialah dengan dimasukkan ke dalam al-Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi. Allah subhanahu wa ta’ala sediakan al-Jannah bagi orang-orang yang menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam al-Jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar.” (An-Nisa’: 13)
4. Dikumpulkan bersama para nabi, para shiddiqinsyuhada’, dan shalihin
Al-Jannah itu bertingkat-tingkat. Penduduknya akan menempati tingkatan al-Jannah sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaannya. Semakin tinggi dan sempurna keimanan serta ketakwaan seorang hamba, semakin tinggi pula tingkatan al-Jannah yang akan dia tempati.
Sudah pasti bahwa tingkatan al-Jannah yang paling tinggi ditempati oleh hamba-hamba-Nya yang paling mulia. Mereka itulah para Nabi, para shiddiqin (orang-orang yang sempurna pembenaran dan keimanan mereka terhadap syariat yang dibawa oleh Nabi n), para syuhada’, dan orang-orang shalih. Bersama merekalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan dikumpulkan di al-Jannah nanti. Hal ini sebagaimana firman-Nya (artinya),
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’: 69)
Para pembaca rahimakumullah. Ayat ini juga mengingatkan kita akan do’a yang senantiasa kita panjatkan ketika membaca surah al-Fatihah (artinya),
“Tunjukilah kami ash-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus). (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)
Jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) adalah jalannya orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah. Siapakah mereka itu? Pembaca bisa lihat dalam surah an-Nisa’ di atas, yaitu jalannya para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang shalih.
Siang dan malam senantiasa kita panjatkan doa tersebut dalam shalat kita. Sehingga agar doa kita tersebut dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk selalu menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh sisi kehidupan kita, baik dalam hal aqidah, ibadah, mu’amalah, maupun akhlak. Semoga Allah menjauhkan kita dari golongan yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Dan barang siapa yang bermaksiat (tidak taat) kepadaku, maka dialah orang yang enggan (yakni enggan masuk al-Jannah, pen.).”
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),
“Dan barang siapa bermaksiat (mendurhakai) Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam an-Nar, sedang dia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa’: 14)
Wallahu a’lamu bish shawab..
Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Kediri hafizhahullah

Senin, 04 Juni 2012

HASIL TECHNICAL MEETING AKSI XI

AKSI X PR IPM Gading merupakan sebuah ajang untuk mengasah bakat dan minat anak-anak Islam, khusunya di Klaten. Aksi memilki beberapa cabang lomba dan setiap cabang lomba memilki ketentuannya masing-masing. Pembahasan ketentuan ini dilakukan pada waqtu technical meeting.
Kami selaku panitia, telah menyelanggarakan technical meeting pada hari Ahad tgl 3 Juni 2012 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Ranting Gading yang dihadiri oleh +- 23 perwakilan pengasuh TPA/TPQ se-Kabupaten Klaten. Kepada para pengasuh yang tidak mengikuti technical meeting dikarenakan berhalangan hadir atau undangnan kegiatan baru sampai setelah technical meeting, hasil dari technical meeting dapat di download disini. Terkait dengan keterlambatan undangn, kami selaku panitia memohon maaf dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan SDM. Apabila ada hal-hal yang perlu ditanyakan, bisa menghubungi 085729484060 (Imam) atau 087880425201(Risky)

Jumat, 25 Mei 2012

Bersatu dalam Jamaah



Dalam sebuah hadits dari Huzafah Ibnu Yaman diterangkan :




“Dari Hudzaifah bin al Yaman ra. Berkata : Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Saw tentang kebaikan, adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan khawatir akan menimpa diriku. Maka aku bertanya : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami (dahulu) berada dalam kejahiliyahan dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan (sekarang) ini. Maka apakah sesudah kebaikan itu aka nada kejelekan ?” Rasulullah menjawab : “Ya” ,Akupun bertanya, “Apakah setelah kejelakan itu ada kebaikan? ,Rasulullah menjawab : “Ya”, namun terdapat kerusakan didalamnya”. Akupun bertanya : “Apakah kerusakan itu ? “ Rasulullah SAW menjawab : “Suatu kaum mengambil sunnah bukan dari sunnahku dan mereka pun menerima petunjuk bukan dari petunjukku kamu kenal mereka tetapi kamu mengingkarinya”. Aku bertanya : ”Maka apakah sesudah kebaikan itu aka nada lagi kejelekan ?” Rasulullah menjawab : “Ya”,yaitu para penyeru diatas pintu Neraka Jahannam,siapa yang menerima ajakannya maka ia terjerumus kedalam Neraka Jahannam itu”. Akupun bertanya kembali: “Wahai Rasulullah beritahukanlah kepada kami sifat-sifat mereka itu”. Rasulullah SAW bersabda: “Mereka itu adalah dari bangsa kita dan merekapun berbicara dengan bahasa kita”, maka apakah yang engkau perintahkan padaku jika keadaan itu menimpaku. Rasulullah Saw bersabda : “Hendaklah kamu tetap berada dalam satu jama’ah kaum muslimin dan Imam mereka”. Aku bertanya : “Bagaimana caranya jika tidak ada jama’ah dan Imam bagi mereka itu ?”, Rasulullah  SAW bersabda : “Hendaklah kamu tinggalkan semua golongan yang ada, meskipun kamu terpaksa memakan akar-akar kayu sehingga kamu mati, sedang kamu tetap dalam keadaan demikian.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Nah di dalam Hadits tersebut dengan jelas tidak dibenarkan perpecahan sedikitpun bagi kaum muslimin, dan juga dijelaskan bahwa setiap muslim harus mencegah dirinya dari keterlibatan terhadap kaum yang bergolong-golong itu, dan apapun namanya golongan-golongan itu wajib bagi muslim tuk meninggalkannya, “selain jama’ah dan Imamah”. ^_^.

Tidakkah kita melihat Ummat Islam yang berfirqoh-firqoh yang dari mereka masing-masing merasa benar dalam perpecahan dan masing-masing menyatakan diri beramar ma’ruf nahi munkar.

Kalau kepada mereka dikatakan “Bahwa jama’ah hanya satu dengan sistem khilafah dibawah seorang Imam/kholifah”, tentu jama’ah-jama’ah minal muslimin yang tidak dapat disatukan akan menjawab : ”Bahwa pendapat demikian itu tidak sesuai lagi dengan kenyataan/realita ummat”. Itu sama halnya mereka menganggap bahwa Seolah-olah Allah dan Rasul-Nya kurang wawasan. Subhanallahi amma yasifuun..

Lihatlah kenyataan Ummat sekarang yang bergolong/berfirqoh/berkelompok jika dikatakan kepada mereka untuk bermusyawarah agar bersatu dalam satu jama’ah dibawah seorang Imam/Kholifah, pasti mereka menolak dengan alasan yang aneh-aneh (tanpa dasar yang jelas/bisa dikatakan berfikir sesukanya sendiri). Mereka tidak mau bersatu karena KEBANGGAAN pada golongan dan ambisi mereka mengejar dunia(harta,tahta,dan lainnya), dan jika ditanya lagi kepada mereka,maka mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi tameng untuk menutupi kekurangan dan kekeliruan mereka yang berdiri diluar Jama’ah. Mereka banyakalasan.com…..^_^.

Saudaraku….tidakkah penjelasan diatas sudah amat jelas menggambarkan keadaan ummat sekarang ???

"Orang-orang yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan masuk surga sedangkan yang tujuh puluh masuk ke dalam neraka, dan orang-orang nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu masuk ke dalam neraka sedangkan yang satu golongan masuk ke dalam surga. Demi dzat yang diri Muhammad ada di genggaman-Nya, niscaya ummatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, maka yang satu golongan masuk ke dalam surga, sedangkan yang tujuh puluh dua golongan masuk ke dalam neraka, ditanyakan kepada Rasululloh:"siapakah mereka itu(golongan yang masuk ke dalam surga)?" Beliau bersabda:"Al-Jama'ah."(HR.Ibnu Majah)

Bersabda Rasulullah saw :

Artinya :

Aku perintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah telah memerintahkannya kepadaku (yaitu); berjama’ah, mendengar, tho’at, hijrah dan berjuang di jalan Allah. Maka barang siapa yang keluar dari AL- JAMA’AH sekedar sejengkal berarti benar-benar ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka ia tergolong orang-orang yang berlutut di nereka Jahanam. Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah ! Bagaimana jika ia tetap berpuasa dan sholat ?" Rasulullah menjawab :" Sekalipun dia shoum dan mengaku bahwa ia adalah seorang muslim".
 Maka panggilah oleh kalian kaum muslimin itu sebagaimana Allah telah menamakan mereka Al-Muslimin almu’minin; ibadallohi Azza Wa Jalla. (Riwayat Ahmad)

Mari kita bersatu dalam Al-Jama'ah.!!!

...Kembali bertaubat kepadaNYA dan bertaqwalah kepadaNYA serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan merekapun menjadi beberapa golongan.
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka sendiri.
(Qs Ar Ruum:31.32)


oleh: Zahid